PS Anak Dan Peran Penggembalaan Dalam Ibadah Kedukaan



PS Anak Dan Peran Penggembalaan Dalam Ibadah Kedukaan


PS ANAK DAN PERAN PENGGEMBALAAN DALAM IBADAH KEDUKAAN

Oleh. Pdt. Elifas Tomix Maspaitella 

 

I. PENGANTAR

 

Partisipasi anak dalam liturgi secara utuh merupakan unsur penting yang tidak bisa dibatasi atau dibuang. Hal itu sama artinya dengan mengatakan bahwa keterlibatan anak dalam ibadah gereja bukanlah sebagai partisipan atau umat yang menghadiri ibadah, sebaliknya mereka adalah bagian yang utuh dari umat yang beribadah.


Umat yang beribadah adalah persekutuan orang percaya yang memenuhi panggilan atau undangan Tuhan dengan jalan bersekutu untuk menghadap Tuhan, mengakui dosa dan memohon ampunan Tuhan, mendengar firman dan perintah Tuhan, memberi persembahan keselamatan, mengaku iman, bernyanyi, berdoa dan membangun tekad untuk menjadi saksi kebenaran sesuai firman Tuhan yang oleh karena itu mendapat janji penyertaan atau berkat Tuhan untuk kembali hidup dan berkarya di dunia nyata.


Anak yang beribadah mesti dipahami posisi dan perannya dalam perspektif itu. Karena itu dalam Injil Markus 10:14, disebut: “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah”. Hal mana menerangkan bahwa liturgi gereja merupakan wujud dari persekutuan jemaat yang utuh, tanpa memisahkan satu dari lainnya.


Dalam praktiknya, gereja-gereja tidak melarang kehadiran anak dalam ibadah jemaat. Walaupun ada ruang khusus Ibadah Anak-Remaja, tetapi itu bukan berarti gereja memisahkan anak dari warga gereja dewasa yang beribadah. Bentuk ibadah itu merupakan strategi pembinaan Kategorial yang dipraktikkan gereja-gereja, sekaligus untuk membangun koneksi yang kuat di kalangan anak-anak dan remaja gereja dengan aktivitas liturgi yang khusus untuk mereka.


Ada pula praktik lainnya, misalnya, jam ibadah jemaat/ibadah Minggu dijalankan bersamaan dengan Sekolah Minggu. Pada beberapa gereja di Indonesia misalnya GPIB dan GKPB, anak-anak mendapat ruang khusus di awal ibadah, untuk menyanyi dan mendapat doa khusus dari Pelayan Firman, kemudian mereka melanjutkan dengan aktivitas Sekolah Minggu. Beberapa gereja Unting Church of Australiadi Melbourne melakukan hal yang unik juga mengenai ini. Anak-anak datang bersama orang tua untuk beribadah, dan mereka diberi ruang khusus untuk berekspresi lalu dibimbing oleh pelayan khusus anak.


Bagi Jemaat yang bercorak parokial teritorial seperti Gereja Protestan Maluku (GPM), dimana warga gereja tinggal/bermukim di sekitar gedung gereja, maka aktivitas Sekolah Minggu (SM) dilakukan setelah jam ibadah Minggu, sehingga anak juga bisa turut beribadah bersama orang tuanya. Artinya pada hari minggu, anak-anak menghadiri ibadah jemaat kemudian SM sebagai wadah Pendidikan Formal Gereja (PFG) sebagai jenjang dasar sebelum Katekisasi (untuk remaja 16-17 tahun ke atas).


Saya tidak mau menyebutkan bahwa kehadiran mereka dalam ibadah jemaat menimbulkan kegaduhan, dan karena itu harus dipisahkan dari ibadah. Sebab penting juga satu keluarga secara bersama-sama bersekutu dengan semua warga gereja lainnya dalam ibadah jemaat. Kehadiran anak dalam ibadah tidak bisa dilihat sebagai dirinya terlepas dari keluarganya, melainkan harus dilihat secara utuh dengan orang tua dan saudaranya yang lain. Ia adalah bagian utuh dari keluarga yang adalah keluarga di dalam jemaat itu. Sebab itu, posisi dan keterlibatannya dalam liturgi adalah gambaran utuh keterlibatan keluarga atau orang tuanya pula.

 

II. PS ANAK DAN PENGGEMBALAAN KEDUKAAN

 

Saya menulis ini dari tengah ibadah pemakaman alm. Antonius Maail, seorang pegawai organik GPM, yang sehari-hari melayani di Pusat Pembinaan Spiritual GPM di Suli. Ia merupakan seorang pegawai organik yang lebih banyak bekerja daripada berbicara.


Ia meninggal pada Sabtu, 30 Maret 2024, dalam Sabtu Sepi, dan dimakamkan pada 1 April 2024. Ia meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih sangat belia. 

Dalam kebaktian ini, Paduan Suara (PS) Anak SMTPI Sektor Yarden, Jemaat GPM Galala Hative Kecil turut beribadah bersama dan mengambil peran liturgis dengan persembahan kidung pujian. Memang di banyak ibadah pemakaman, keterlibatan PS Anak bukan lagi hal baru. Tetapi tidak baik juga jika sekedar dinikmati alunan suara mereka yang merdu, tanpa memberi makna lain secara teologis dari hal tersebut.


Fakta bahwa kedua anak almarhum masih sangat belia, pada kelas Indria (4-6 Th) dan Anak Kecil (7-9 thn) di Jenjang SMTPI GPM, membuat kehadiran PS Anak itu menjadi penting direfleksikan dengan melihat sisi pastoral gereja dimana anak dalam kesebayaan mereka bisa menjadi penghibur dan pemberi semangat meskipun mereka belum memahami banyak tentang kedukaan itu.

Dengan menyanyikan kidung pujian dalam ibadah pemakaman, dorongan empati sudah terbentuk pada anak-anak dalam PS Anak tersebut. Belajar berempati sejak kanak-kanak adalah hal yang penting ditumbuhkan agar mereka mampu melihat lingkungan di luar dirinya, dan menjadikan orang lain, yang berduka, sebagai bagian dari dirinya atau komunitasnya. Ketika berjumpa anak-anak almarhum dalam aktivitas SMTPI setelah ibadah pemakaman nanti, mereka sudah bisa menempatkan diri sahabatnya itu secara khusus. 


Aspek kedua yang terbangun dari kehadiran PS Anak itu ialah anak-anak anggota PS Anak belajar bahwa selain sukacita, adapula dukacita dan mereka harus bisa merasakan kedukaan sahabatnya. Dengan begitu, mereka bisa menjadi sahabat. Jika kelak sahabatnya di-bully, mereka bisa menjadi pembela karena empati awal yang telah terbentuk itu.


Aspek ketiga ialah, anak anggota PS Anak membiasakan diri untuk menjaga persekutuan mereka sejak dini, dan itu berdampak pada penerimaan sahabat mereka pasca dukacita.


Motivasi itu perlu diperkuat oleh para Pengasuh/Guru SM dan para Pelayan Khusus (Pendeta, Penatua dan Diaken), serta orang tua, agar dalam setiap keluarga membiasakan diri membina anak-anak untuk memperkuat persekutuan berjemaat/bergereja, dan juga bermasyarakat.



Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin