Efisien dan Modern, Jemaat Wayame Gelar Pemilihan Penatua dan Diaken Berbasis Web




Proses pemilihan Penatua dan Diaken Gereja Protestan Maluku (GPM) untuk periode 2025-2030 di Maluku dan Maluku Utara telah berjalan dengan baik. Pemilihan ini dilaksanakan serentak pada 4 November 2025 di masing-masing jemaat.

 

MPH sinode GPM, turut mengambil bagian dalam pesta iman ini. Mph juga melakukan kunjungan langsung ke beberapa jemaat di Klasis Kota Ambon, Klasis Pulau Ambon, Klasis Pulau Ambon Timur dan Klasis Pulau Ambon Utara.

 

Menariknya, Jemaat GPM Wayame, Klasis Pulau Ambon Utara, mengadopsi pendekatan digitalisasi dalam pemilihan ini. Proses tersebut tetap mengikuti petunjuk teknis (juknis) pemilihan Penatua dan Diaken yang ditetapkan oleh Sinode GPM.

 

Sejalan dengan perkembangan zaman, Jemaat GPM Wayame melibatkan anggota jemaat profesional di bidang informatika dalam panitia pemilihan. Mereka merancang sistem berbasis web untuk mendukung proses pemilihan Penatua dan Diaken di Jemaat GPM Wayame.

 

Dalam wawancara dengan tim Media Center GPM, Ketua Majelis Jemaat GPM Wayame, Pendeta L. Laisila, menyampaikan bahwa ide ini muncul dari panitia yang memiliki keahlian di bidang pengembangan web. Ide tersebut kemudian dikomunikasikan dengan pimpinan Klasis dan Sinode.

 

“Kami melakukan simulasi sebanyak dua kali di internal panitia dan jemaat. Pada simulasi ketiga, kami mengundang perwakilan Klasis, MPH Sinode, dan Media Center,” jelasnya.

 

Setelah melalui proses simulasi dan mendapat masukan dari Klasis, MPH Sinode, serta Media Center GPM, Jemaat GPM Wayame akhirnya memperoleh izin untuk melaksanakan pemilihan Penatua dan Diaken secara digital.

 

“Bagi kami, ini efektif dari sisi waktu, tenaga, dan biaya. Semoga ini dapat menjadi contoh di masa depan, karena kita sudah berada di era digital, dan harus bisa memanfaatkannya untuk kepentingan pelayanan,” tambahnya.

 

Sementara itu, Benhard Matheis, salah satu anggota panitia dan perancang sistem, menjelaskan bahwa ide sistem berbasis web ini disambut baik oleh panitia, yang berupaya membangun sistem sesuai juknis yang ada. “Umat tetap datang ke gereja, memilih di bilik suara, dan ada kotak suara, hanya saja prosesnya berbasis digital,” ujarnya.

 

Matheis menjelaskan bahwa sistem pemilihan berbasis web ini menggunakan kartu elektronik, yang mengurangi biaya pencetakan kertas suara. Jemaat juga lebih dimudahkan dengan fasilitas layar sentuh.

 

“Panitia dan tim developer merancang sistem berbasis web yang dapat dioperasikan dengan perangkat sederhana dan biaya minimal. Data jemaat yang digunakan bersumber dari MSIPT,” ungkapnya.

 

Persiapan menyeluruh dilakukan demi kemudahan bagi jemaat. Selain merancang sistem berbasis web, panitia dan Majelis Jemaat juga menyediakan simulasi dan video tutorial. Selama proses pemilihan berlangsung, panitia juga menyediakan pendamping bagi jemaat yang mengalami kesulitan.

 

Seorang Warga Gereja Senior (WGS) dalam wawancara dengan tim Media Center menyatakan bahwa penggunaan sistem digital ini mempermudah proses pemilihan. “Kalau manual itu ribet, tapi dengan website ini lebih mudah, seperti menggunakan HP,” ujarnya.



Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin