Anemia Dalam Kehamilan



Anemia dalam Kehamilan

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

Penulis : Widy Markosia Wabula & Betty Anthoineta Sahertian

( Dosen Poltekkes Kemenkes Maluku)

 

Anemia dalam kehamilan menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dampaknya yang membahayakan bagi kesehatan janin dan ibu hamil. Anemia dalam kehamilan menjadi masalah nasional karena pengaruhnya terhadap kualitas sumber daya manusia dan mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. Anemia dalam kehamilan dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran, persalinan prematur, kesakitan dan kematian wanita hamil, bayi dengan berat badan lahir rendah, dan mortalitas perinatal. 

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin di dalam darah kurang dari normal. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin kurang dari 10,5 g/dl pada trimester II.  Anemia pada ibu hamil akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan janin.  Anemia dalam kehamilan ditimbulkan karena rendahnya asupan makanan sumber besi, kehilangan besi, dan peradangan.

Kehamilan menyebabkan terjadinya peningkatan volume plasma sebesar 30%, eritrosit sebesar 18% dan pertambahan hemoglobin sebesar 19%. Pada pertengahan kehamilan pertambahan volume plasma lebih besar daripada sel darah dan meningkat kembali pada akhir kehamilan. Pengenceran darah (hemodilusi) mencapai puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hemoglobin ibu pada saat pra hamil 11 gr%, maka dengan adanya hemodilusi akan menimbulkan anemia kehamilan fisiologis.

Ibu hamil membutuhkan 1000 mg zat besi selama kehamilannya. Kebutuhan besi yang tinggi terus meningkat terutama pada trimester II-III kehamilan, yaitu sekitar 3,5 mg saat mendekati akhir trimester II dan 7 mg per hari pada trimester III. Jika kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi melalui diet harian akan terjadi mobilisasi cadangan besi tubuh. Sebagian besar ibu hamil memiliki cadangan besi tubuh yang rendah sehingga rentan mengalami defisiensi besi atau anemia.

Prevalensi anemia di Indonesia diperkirakan 40-50% dan anemia defisiensi besi menempati urutan pertama, selain anemia megaloblastik, anemia hipoplastik, dan anemia hemolitik. Salah satu kelompok masyarakat yang memiliki prevalensi anemia defisiensi besi tinggi adalah ibu hamil. Berdasarkan laporan WHO, prevalensi anemia dalam kehamilan antara 20% dan 89% dengan menentukan kadar Hb 11 g/dl sebagai dasarnya. Menurut laporan dari seluruh dunia, disebutkan frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi yaitu 10-20% terutama di negara-negara berkembang dan semakin meningkat seiring pertambahan usia kehamilan. Klasifikasi anemia dalam kehamilan yaitu anemia defisiensi besi sebesar 62,3%, anemia megaloblastik sebesar 29,0%, anemia hipoplastik sebesar 8,0%, dan anemia hemolitik sebesar 0,7%.

Defisiensi zat besi dalam tubuh berdasarkan beratnya dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu deplesi besi, eritropoiesis defisiensi besi, dan anemia defisiensi besi. Pada keadaan deplesi besi atau prelatent iron deficiency, cadangan besi menurun, tetapi kompartemen pengangkutan besi untuk pembentukan sel-sel darah merah masih normal. Pada keadaan ini terjadi penurunan kadar feritin serum dan hemosiderin sumsum tulang, dan peningkatan absorpsi besi, tetapi parameter status besi lain masih normal. Pada keadaan eritropoiesis defisiensi besi (iron deficient erythropoiesis), cadangan besi sudah kosong, terjadi penurunan transportasi besi dan penyediaan besi tidak cukup untuk pembentukan sel-sel darah merah, tetapi kadar hemoglobin dan hematokrit masih normal. Sedangkan pada anemia defisiensi besi, sudah terjadi penurunan kadar hemoglobin.

Asupan zat besi yang rendah akibat ketidakseimbangan antara konsumsi bahan makanan sumber zat besi yang masuk kedalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat besi merupakan penyebab anemia defisiensi besi. Bahan makanan dengan bioavailabilitas yang rendah dan beberapa zat penghambat absorpsi (pitat, tanin dan polifenol) dalam makanan akan mengganggu absorbsi besi.

1. Asupan zat besi yang rendah. Ketidakseimbangan antara konsumsi bahan makanan sumber zat besi yang masuk ke dalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat besi. Kurangnya jumlah besi total dalam makanan dan kualitas besi yang tidak baik di mana bahan makanan yang dikonsumsi banyak mengandung serat, rendah besi, rendah vitamin C, rendah folat dan rendah riboflavin. Kehilangan nafsu makan dan ketidak keteraturan mengkonsumsi suplementasi tablet besi merupakan penyebab asupan zat besi yang rendah. 
2. Kehilangan zat besi. Insidens diare terutama terjadi pada kebanyakan negara berkembang yang cukup tinggi, infeksi cacing tambang, skistosomiasis, menimbulkan defisiensi besi juga malabsorbsi zat besi. Serangan malaria yang berulang di daerah endemik malaria, dapat menimbulkan anemia karena defisiensi zat besi. Penyakit malaria pada ibu hamil yang menderita anemia defisiensi zat besi dapat memperparah derajat anemianya.
3. Peningkatan kebutuhan zat besi. Terdapat peningkatan kebutuhan zat besi selama masa kehamilan. Meningkatnya kebutuhan zat besi selama kehamilan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan fetus, pertumbuhan plasenta, dan peningkatan jumlah sel darah merah ibu. Kebutuhan zat besi meningkat secara linier sesuai dengan umur kehamilan. Selama kehamilan, jumlah rata-rata kebutuhan zat besi ibu hamil sekitar 840 mg. Sekitar 350 mg besi ditransfer ke janin dan plasenta, dan 450 mg besi untuk pertambahan eritrosit maternal, karena itu seorang ibu hamil diperkirakan membutuhkan 5,6 mg zat besi setiap hari selama trimester II-III kehamilannya.
4. Gangguan absorbsi zat besi. Gangguan absorbsi zat besi disebabkan oleh tropical sprue atau colitis kronis dan seseorang yang telah mengalami gastrektomi. Bahan makanan penduduk negara berkembang banyak berasal dari sumber nabati dengan bioavailabilitas yang rendah dan memiliki absorbsi zat besi yang buruk, banyak mengandung zat penghambat absorpsi (pitat, tanin dan polifenol) sedangkan zat pemicunya sedikit.

Pencegahan adalah merupakan tujuan utama dalam penanganan masalah kesehatan masyarakat ini. Upaya penanggulangan anemia defisiensi zat besi dapat dilakukan dengan lima cara.

1. Memperkaya makanan pokok dengan zat besi. Zat besi dapat membantu pembentukan haemoglobin (sel darah merah) yang baru. Bahan-bahan makanan yang mengandung zat besi tinggi antara lain daging ternak, unggas, ikan, sayur-sayuran berwarna hijau (kangkung, bayam, daun katuk) serta kacang-kacangan. 
2. Pemberian suplemen tablet tambah darah. Pada saat ini pemerintah mempunyai Program Penanggulangan Anemia Gizi Besi pada ibu hamil untuk mencegah dan menanggulangi masalah anemia gizi besi melalui suplementasi zat besi. Bentuk penanganan yang disukai adalah terapi zat besi per oral. Efek samping pemberian tablet zat besi terdiri dari diare, mual, perut kembung, sulit buang air besar dan tinja berwarna hitam. Risiko efek samping tersebut sebanding dengan dosis zat yang diberikan.
3. Edukasi gizi. Upaya pendidikan nutrisi masyarakat diperlukan untuk menggalakkan perbaikan konsumsi makanan. Pelaksanaan pendidikan kesehatan tentang ancaman anemia defisiensi besi bagi ibu hamil dan bayi yang dikandungnya, juga pendidikan tentang kualitas makanan yang kaya akan zat besi dan pentingnya menjaga kebersihan personal dan lingkungan. Upaya penanggulangan masalah anemia defisiensi besi melalui peningkatan asupan makanan dengan mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat besi tinggi dan bahan makanan yang bersifat meningkatkan absorpsi zat besi. Di samping itu, mencegah mengkonsumsi bahan makanan yang bersifat menghambat penyerapan zat besi.
4. Fortifikasi Makanan. Fortifikasi makanan adalah penambahan zat gizi pada makanan dengan kadar yang lebih tinggi dari kadar aslinya. Fortifikasi zat besi  perlu dilakukan jika diet zat besi tidak mencukupi atau diet zat besi harian rendah bioavailabilitasnya, terutama pada masyarakat di negara berkembang yang penduduknya sebagian besar berada pada status ekonomi rendah. Contoh bahan makanan yang berhasil difortifikasi adalah tepung, roti, gandum, jagung, gula, dan susu. 
5. Pengawasan penyakit infeksi. Beberapa penyakit infeksi seperti malaria, cacing tambang, skistosomiasis, dan tuberculosis merupakan penyebab anemia. Dalam keadaan infeksi, terjadi penurunan kadar zat besi dalam tubuh sehingga memungkinkan terkena defisiensi besi atau anemia. Dengan demikian, perlu diupayakan perbaikan sanitasi perorangan dan lingkungan, serta penyediaan air bersih untuk mencegah adanya infeksi baik oleh hewan, bakteri, maupun virus.

Risiko timbulnya anemia pada ibu hamil dapat dicegah apabila ibu hamil dapat memenuhi kebutuhannya akan zat besi. Pemenuhan zat besi yang masih kurang dari makanan dapat dilakukan dengan mengonsumsi suplemen besi (Tablet tambah darah). Tablet tambah darah adalah tablet untuk suplementasi penanggulangan anemia gizi dimana setiap tablet mengandung 200 mg Ferro Sulfat atau 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat.

Program penanggulangan anemia defisiensi besi pada ibu hamil dengan pemberian tablet Fe atau tablet tambah darah sebanyak satu tablet setiap hari berturut-turut selama 90 hari selama masa kehamilan. Suplementasi harus diberikan pada trimester II dan III, saat efisiensi absorpsi meningkat dan risiko terjadinya mual muntah berkurang. Diharapkan ibu hamil pada kehamilan trimester III sudah mengonsumsi 90 tablet Fe yang didapatkannya.

Pemberian tablet Fe pada wanita hamil dapat memperbaiki status besi tubuh wanita hamil. Dosis pencegahan anemia yang diberikan kepada wanita hamil tanpa pemeriksaan kadar Hb adalah konsumsi 60 mg/hari minimal selama 90 hari masa kehamilannya hingga 42 hari setelah melahirkan. Dosis diberikan mulai saat pertama dilakukan pemeriksaan kehamilan ibu hamil (K1).

Suplementasi besi diperlukan ibu hamil selama masa kehamilan untuk melengkapi kebutuhan zat besi yang tidak dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan. Suplemen tablet Fe diberikan minimal 90 tablet selama kehamilan, akan bermanfaat jika dikonsumsi secara teratur satu tablet setiap hari selama kehamilan. Preparat tablet Fe 60 mg/hari akan meningkatkan kadar hemoglobin ibu hamil sebesar 1 gr%/ bulan.

Suplementasi zat besi atau pemberian tablet Fe adalah salah satu upaya penting dalam pencegahan dan penanggulangan anemia defisiensi besi. Suplementasi besi merupakan cara efektif penanggulangan anemia karena kandungan besinya yang dilengkapi asam folat sehingga juga dapat mencegah anemia karena kekurangan asam folat. Pemberian tablet Fe akan menjadi efektif bila diikuti oleh peningkatan produksi sel darah merah. Efektifitas pengobatan ini dipengaruhi beberapa faktor, termasuk beratnya anemia defisiensi besi dan kemampuan ibu hamil untuk menyerap preparat besi.